mysterio

August 29, 2009

I’ll Name de la Rosa

Filed under: Uncategorized — Tags: , — mysterio @ 8:10 am

Good morning all

Disela-sela ngerjain skripsi gw yang – sumpah.. geblek.. bener2 membosankan ini-, gw seringkali ngisi waktu dengan cari2 novel2 yg sifatnya gak terlalu entraining, sedikit berfilsafat dgn ditambah unsur teologis, ilmiah, ato apalah yg penting rada mikir… ya intinya suatu bacaan yang bisa nganterin gw kedalam suatu pemikiran yg unik dan gak lazim…

kenapa ?

Menurut gw itu perlu, buat sekali-sekali…. maksud hati biar bisa ngasih ilham dan ngebalikin mood gw buat semangat nyekripsi lagi, yang ada malah bikin otak gw tambah minus, begadang teruss….buktinya udah pagi gini gw belum tidur aja… :nohope:

Dan… akhirnya gw nemu buku yg sesuai dengan kriteria tersebut…

THE NAME OF THE ROSE, karya UMBERTO ECO

512MGT2T21L

Aslinya !! sangat direkomendasikan ini mah :thumbup: !

Sebenernya ni buku lama, copyright nya taun 1980 tapi baru masuk cetakan pertama di Indonesia maret 2008… dikarang oleh seorang professor berkebangsaan Itali, seorang ahli abad pertengahan,filsuf, pakar semiotika, sekaligus novelis, yg gw yakin seyakin2nya kalo otak dia begooooo  bgt 😀

Saking herannya dengan pemikiran sang prof.. gw cuman bisa ckckckckck aja 😀

Okay… terus bagusnya gw ngapain ?

Bikin synopsis llaahhh …..

Intinya buku ini menceritakan tentang misteri pembunuhan di sebuah biara Benediktin. Biara yang biasanya tenang dan damai, kemudian dikejutkankan oleh serangkaian kematian misterius. Singkatnya dipanggilah William, seorang mantan inkuisitor (investigator orang bid’ah jaman pertengahan dulu) yg dikenal punya kemampuan intelektual lebih buat nyelesain kasus tersebut. Dan si William itu punya murid, (novis), namanya Adso yg gak lain adalah tokoh utama dalam buku ini, dan sekaligus nulis kisah ini.

Inti ceritanya sih gitu….

Sekilas emang tampak simple. Tapi… setelah gw baca… didalem buku setebal 624 halaman ini Umberto Eco hebatnya bisa secara detail ngegambarin dunia pada abad pertengahan akhir, yg dikenal sebagai jaman kegelapan, dimana dengan mudahnya gereja bisa nuduh seseorang sebagai orang bid’ah dan dibakar gitu aja atas nama tuhan tanpa alesan2 yg jelas. Zaman yg bisa dikatakan sebagai zaman yg hilang.. dan realitanya orang2 cenderung lebih tertarik untuk mempelajari zaman2 rennaisance -beberapa ratus tahun setelah cerita ini- karena lebih banyak penemuan2 dan kemajuan2 pada zaman tersebut, dibandingkan dengan zaman kegelapan ini. Sedikit sekali fakta2 sejarah yg bisa digali… emang sih, yg gw bisa liat sekarang aja, lebih banyak cerita tentang kemakmuran suatu bangsa, dibandingkan dengan kemundurannya… so…

Gw jadi kepikiran… “ni penulis bikin riset nya sehebat apa yak ?”

Gak cuman itu…

Eco banyak menceritakan tentang persaingan politik antar Paus dan Kaisar, intrik2 kepasturan yg mana pada zaman itu kepecah2 jadi berbagai ordo macem Benediktin, Dominikan, Clunny, Fransiskan, etc, yg masing2 punya inti ajaran yg lucunya cenderung berbeda dengan ordo lainnya, dan masing2 memihak salah satu diantara Paus atau Kaisar… kemudian masalah gaya hidup, masalah kebid’ah an, rasul palsu seperti Fraticelli Dolcino, Margaret si tukang sihir, dan fraticelli2 lainnya, yg begitu gencar diburu oleh inkuisitor untuk alasan2 tertentu… termasuk untuk jenjang karir para inkuisitor itu sendiri… menarik kan ?

Kemudian hal2 yg terjadi di dalam gereja itu sendiri…

Kesalehan para rahib yg tiap harinya tanpa ngeluh menjalankan ibadah Matina, Lauda, Prima, Tersiat, Sexta, Nona, Vespers, dan Komplina (delapan kali sehari boooo), megahnya gereja2 , relikui2 yg tak ternilai harganya,

sampai hal2 yg tak disangka2 juga dilakukan oleh para rahib… alih2 menghindari “dosa daging” dengan wanita, eehh malahan banyak yg jadi sodomit… weeksss….

Dan yg paling menarik adalah ketika hal2 yg sifatnya teologis mulai dikisahkan…

Gimana cara penarikan hipotesa seorang teolog… arti symbol, ketergesaan dalam kesucian, dan  hal2 lainnya dalam dunia ini yg seharusnya bukan untuk kita percayai, tapi untuk kita pertanyakan… dan pembahasan satu quotation “kejahatan bisa muncul dari kesalehan”

Overall… buku yg menarik, dan mikir….

Belum selesai….

Hal menarik nggak sebatas ceritanya doang…. Tapi pada konsep penyusunan novel ini… diantaranya…

Pertama… judul “I’ll Name de la Rosa” atau dalam bahasa inggris diterjemahkan menjadi “The Name of The Rose”, sama sekali nggak ada kaitannya dengan cerita yg dimuat…. Iya ya ? kenapa sih judulnya nggak “Pembunuhan di Biara Benediktin” gitu misalnya… tapi malah ambil judul yg gak nyambung…

I’ll name de la rosa diambil dari puisi De Contemptu Mundi karya Bernard, yg pada intinya diambil dari potongan puisi ini :

“Mawar, kau begitu cantik”

“Tetapi astaga, karena cantik tak lama lagi kau akan tidak bahagia”

Itu suatu perumpamaan bahwa… apa2 yg hebat, kota2 yg terkenal, bangunan yg terkenal, putri2 yg cantik, segala sesuatunyya akan berakhir dan lenyap, dan paling banter hanya meninggalkan nama… dengan mengambil kalimat “Nama sang mawar”, Eco sengaja mempersilahkan kita untuk menarik kesimpulan sendiri…

Suatu pemikiran yg keren ya ?

Kedua… Eco punya prinsip penyusunan yg dia anggap saleh… yaitu…

Seorang narrator tidak seharusnya memberikan interpretasi atas karyanya, karena novel itu sendiri adalah alat untuk merangsang intepretasi tersebut.

Pantesannn sepanjang novel gw binguungg aja…

Tetapi salah satu halangan utama dari prinsip itu adalah kenyataan bahwa suatu novel harus punya judul… dan sebuah judul otomatis adalah sebuah kunci untuk menafsirkan…

hmmm hmmm…

gini contohnya :

Kalo kita bikin novel judulnya “MANOHARA”, otomatis judul tersebut membatasi pembaca pada tokoh utamanya saja, ya si mano itu, padahal selain si mano kan masih ada DESI FAJARINA, PANGERAN KELENTIT, HOTMAN SITOMPUL dan kawan-kawan :D….

Eco nganggap acuan terhadap tokoh bisa mewakili campur tangan pengarang yg tidak seharusnya…

Beuuuhh :muntah:…. Iya deh prof….

Eh gw mau Tanya nih … tokoh utamanya cerita “THE THREE MUSKETEERS” ada berapa orang ?

…….

…….

Empat orang kan ?

Nah terus kenapa judulnya “THE THREE MUSKETEERS” ???

…….

…….

Nah, Itu lah contoh pemikiran yg sama dengan si prof Eco tadi…  Penulis nggak salah ketik kok :D.. tapi justru hal tersebut lah yang oleh orang seperti mereka nikmati…

Ketiga… suatu cerita haruslah menjungkir-balikan pemikiran pembacanya… bukan ngebuat mereka mikir yg lurus-lurus macem sinetron Indonesia :D.. Eco sengaja banyak ngebuat dialog2 yg membingungkan… yang memang gunanya untuk memunculkan interpretasi pembacanya… dan lucunya….

Hal ini biasanya ditentang sama penerbit… ya iyalah… penerbit kan market oriented… otomatis mereka pengen pasarnya enak2 aja buat nikmatin cerita si Eco ini, gak dibikin pusing buat mikir aneh2… alhasil jadinya kayak skripsi gw… “REVISI !!!” … ini nggak jelas,, yg ini ditambahin… yg ini cari teorinya… wkwkwk…

Nah konyolnya si Eco ini bilang apa coba :

“Seorang penulis harusnya mati begitu selesai menulis, dengan begitu dia tidak akan merusak jalannya naskah”

Duh prof.. prof…

Okeh… akhirnya sang kantuk dateng, jadi paling segitu aja synopsis nya… walau sebenernya masih banyak lagi yg bisa diungkapin…

Dan jujur aja… gw baca ni novel nggak terlalu nyimak juga… banyak dialog2 yg gak gw ngerti gw lewat gitu aja, maklum lah penasaran liat endingnya kek gimana…

So… someday, kalo secara intelektualitas gw udah ada banyak peningkatan, gw bakal baca lagi novel ini dari awal…

Pasti banyak hal menarik yg udah gw lewatin…

Cheers and have a good day…..

mysterio

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: